Bauran Energi Baru Terbarukan Indonesia Menurun, Target Pembangunan PLTS Perlu Ditingkatkan

Indonesia saat ini berada di persimpangan penting dalam transisi energinya, dengan target ambisius untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 GW. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa bauran energi baru terbarukan (EBT) mengalami penurunan dari 18 persen menjadi 17 persen. Hal ini mencerminkan tantangan yang masih dihadapi dalam upaya mencapai sasaran tersebut. Dalam konteks ini, diperlukan strategi multijalur untuk memastikan keberhasilan transisi energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Penurunan Bauran Energi Baru Terbarukan
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa bauran EBT Indonesia mengalami penurunan dan kini berada di angka 17 persen pada tahun 2026, turun dari 18 persen yang tercatat pada triwulan pertama tahun yang sama. Penurunan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kemajuan, perjalanan menuju tujuan energi terbarukan masih menghadapi berbagai kendala.
Menurut pemerintah, salah satu faktor penyebab penurunan ini adalah masuknya pembangkit berbahan bakar gas ke dalam sistem energi nasional. Dengan demikian, ada tantangan untuk meningkatkan kontribusi EBT di tengah meningkatnya penggunaan sumber energi fosil.
Pernyataan Pejabat ESDM
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan bahwa fluktuasi ini disebabkan oleh beberapa faktor. “Saat ini, bauran energi baru terbarukan berada di angka 17 persen. Sebelumnya, pada triwulan pertama 2026, angkanya adalah 18 persen. Mungkin ada sedikit kontribusi dari pembangkit gas dan sumber lainnya, sehingga terjadi penyesuaian,” ungkap Eniya.
Kontribusi Sumber Energi dalam Bauran EBT
Dalam rincian bauran energi baru terbarukan, kontribusi terbesar berasal dari FAME (Fatty Acid Methyl Ester) yang mencapai 5,2 persen. FAME merupakan bahan utama dalam produksi biodiesel, yang umumnya dihasilkan dari minyak kelapa sawit.
- FAME: 5,2 persen
- Pembangkit listrik tenaga air (hidro): 3,5 persen
- Panas bumi: 2,2 persen
- Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS): 0,5 persen
- Target PLTS: 100 GW
Setelah FAME, sektor pembangkit listrik tenaga air menyumbangkan 3,5 persen dari total bauran EBT. Sementara itu, energi panas bumi juga memberikan kontribusi sekitar 2,2 persen. Pemerintah berharap bahwa kontribusi panas bumi ini dapat meningkat menjadi 4,5 persen, seiring dengan rencana penambahan kapasitas pembangkit yang mencapai 5,2 gigawatt (GW) dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).
PLTS yang Masih Minim Kontribusinya
Sayangnya, kontribusi dari pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) masih terbilang sangat kecil, yaitu hanya 0,5 persen. Angka ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah yang berambisi untuk mengembangkan PLTS hingga mencapai kapasitas 100 GW.
Eniya Listiani Dewi menegaskan pentingnya meningkatkan kontribusi PLTS. “Kami berharap PLTS dapat menjadi kontributor yang signifikan dalam meningkatkan bauran energi baru terbarukan,” ujarnya. Ambisi ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menghentikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) sebesar 13 GW pada tahun 2026 dan membangun PLTS berkapasitas 30 GW.
Kendala dalam Pengembangan PLTS
Meskipun pemerintah telah menetapkan target yang jelas, tantangan yang dihadapi dalam pengembangan PLTS cukup kompleks. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap lambatnya pertumbuhan ini antara lain:
- Keterbatasan infrastruktur pendukung
- Biaya investasi yang tinggi
- Ketersediaan lahan yang memadai
- Regulasi yang belum sepenuhnya mendukung
- Persepsi masyarakat tentang energi terbarukan
Infrastruktur yang belum memadai menjadi salah satu hambatan utama. Tanpa adanya jaringan distribusi yang efisien, pengembangan PLTS tidak akan optimal. Selain itu, biaya awal yang tinggi untuk instalasi panel surya juga menjadi penghalang bagi banyak investor.
Pentingnya Kesadaran Masyarakat
Selain faktor teknis dan ekonomi, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya energi terbarukan juga perlu ditingkatkan. Edukasi mengenai manfaat dan potensi energi terbarukan harus digalakkan agar masyarakat lebih mendukung transisi energi ini.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat, diharapkan akan muncul dukungan yang lebih besar terhadap proyek-proyek energi terbarukan, termasuk PLTS. Hal ini penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi di sektor energi baru terbarukan.
Strategi untuk Meningkatkan Bauran Energi Baru Terbarukan
Untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan yang lebih tinggi, pemerintah perlu mengimplementasikan beberapa strategi kunci:
- Peningkatan investasi di sektor energi terbarukan
- Penyediaan insentif bagi pengembang PLTS
- Pengembangan kebijakan yang mendukung energi bersih
- Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat
- Peningkatan riset dan inovasi teknologi
Peningkatan investasi merupakan langkah awal yang krusial. Tanpa dukungan finansial yang kuat, proyek-proyek energi terbarukan akan sulit untuk direalisasikan. Selain itu, penyediaan insentif bagi pengembang PLTS juga akan mendorong lebih banyak partisipasi dari sektor swasta.
Kolaborasi Multisektoral
Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat juga sangat penting. Dengan membangun kemitraan yang solid, upaya untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan bisa lebih efektif. Misalnya, program-program edukasi dan kampanye publik dapat melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran dan dukungan terhadap energi terbarukan.
Peningkatan riset dan inovasi teknologi juga tidak kalah penting. Dengan mengembangkan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan, Indonesia dapat mempercepat transisi ke energi terbarukan. Hal ini akan membantu menurunkan biaya dan meningkatkan daya saing energi terbarukan di pasar.
Menyongsong Masa Depan Energi Terbarukan
Secara keseluruhan, meskipun ada penurunan dalam bauran energi baru terbarukan, peluang untuk meningkatkan kontribusi energi terbarukan di Indonesia tetap terbuka lebar. Dengan strategi yang tepat dan dukungan dari semua pihak, Indonesia dapat mencapai target ambisiusnya dalam pengembangan energi terbarukan.
Pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta harus bersatu dalam upaya ini. Hanya dengan kolaborasi yang kuat dan komitmen berkelanjutan, transisi energi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dapat terwujud. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan energinya tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan global.
➡️ Baca Juga: Harga OTR Jakarta untuk BMW Seri 5 Mencapai Rp1,5 Miliar, Simak Detailnya di Sini
➡️ Baca Juga: Analisis Mendalam Saham Sektor Komoditas: Batubara, Nikel, dan Sawit untuk Investasi Cerdas




