Harga Ayam Naik Drastis, Bapanas Siapkan Subsidi Ongkir untuk Masyarakat

Harga ayam yang terus mengalami kenaikan menjadi isu penting bagi masyarakat, terutama menjelang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dijalankan. Untuk menanggulangi efek dari inflasi yang dipicu oleh lonjakan permintaan ini, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengumumkan bahwa mereka akan memberikan subsidi untuk biaya transportasi distribusi daging ayam ras ke berbagai daerah yang mengalami gejolak harga. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam mendapatkan akses terhadap daging ayam dengan harga yang lebih terjangkau.
Subsidi Biaya Transportasi untuk Menstabilkan Harga
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, menjelaskan bahwa subsidi tarif angkutan distribusi akan diterapkan untuk memastikan bahwa pasokan daging ayam ras dari produsen dapat tersebar merata ke seluruh wilayah. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap kebutuhan yang meningkat akibat program MBG yang dilaksanakan di berbagai daerah.
Hermawan menambahkan, “Kami akan memberikan subsidi dari Bapanas untuk angkutan distribusi, sehingga produksi dari daerah penghasil dapat lebih mudah disalurkan ke berbagai tempat.” Hal ini menunjukkan komitmen Bapanas dalam membantu daerah-daerah yang mengalami fluktuasi harga, terutama yang bukan merupakan pusat produksi daging ayam.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Inflasi Nasional
Berdasarkan laporan dari Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas daging ayam ras turut berkontribusi terhadap inflasi nasional selama bulan September. Peningkatan permintaan daging ayam ras disebabkan oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan juga dipengaruhi oleh kenaikan harga pakan ternak yang berdampak langsung pada biaya produksi.
- Peningkatan permintaan daging ayam ras di beberapa daerah.
- Harga pakan ternak yang meningkat.
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai faktor pendorong utama.
- Fluktuasi harga yang terjadi di daerah non-produksi.
- Dampak inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga ayam.
Antisipasi Fluktuasi Harga Daging Ayam
Dalam rangka mengatasi fluktuasi harga yang tidak wajar, Bapanas berperan aktif dalam membantu pemerintah daerah yang mengalami permasalahan dalam stabilisasi harga pangan. Subsidi biaya angkut menjadi salah satu solusi yang dipersiapkan untuk memastikan akses masyarakat terhadap daging ayam tetap terjaga.
Hermawan menegaskan bahwa meskipun terdapat lonjakan permintaan, harga daging ayam masih dalam batas wajar. “Kenaikan ini mungkin terlihat signifikan, tetapi di beberapa daerah harga masih terbilang murah. Hanya di lokasi-lokasi tertentu yang mengalami masalah pasokan,” ujarnya.
Kendala dalam Stabilitas Harga Pangan
Salah satu tantangan yang sering dihadapi oleh pemerintah daerah dalam usaha menstabilkan harga pangan adalah biaya angkut distribusi dari luar daerah. Hal ini sangat berpengaruh, terutama bagi daerah yang bukan merupakan sentra produksi daging ayam. Keterbatasan pasokan dari daerah produsen dapat menyebabkan lonjakan harga yang signifikan di daerah penerima.
“Bapanas akan memastikan daerah-daerah yang mengalami kekurangan pasokan akan mendapatkan suplai dari daerah penghasil. Anggaran untuk subsidi ini masih tersedia,” ungkap Hermawan.
Perkembangan Harga Daging Ayam Nasional
Memantau perkembangan harga daging ayam, per 2 Oktober 2026, rata-rata harga nasional tercatat sebesar Rp40.961 per kilogram. Ini merupakan penurunan sebesar 0,62 persen dibandingkan dengan minggu sebelumnya yang mencapai Rp41.218 per kilogram, serta penurunan 0,82 persen dibandingkan sebulan lalu yang tercatat Rp41.300 per kilogram.
Hermawan mengungkapkan bahwa meskipun terjadi penurunan, penting untuk terus memantau ketersediaan dan distribusi daging ayam agar masyarakat tetap dapat mengaksesnya dengan harga yang terjangkau.
Proyeksi Stok Daging Ayam Ras
Menurut proyeksi Bapanas, stok daging ayam ras hingga akhir tahun 2026 diperkirakan masih dapat mencapai 1 juta ton. Hal ini berdasarkan stok awal tahun yang berada pada angka 200 ribu ton, ditambah estimasi produksi dalam negeri yang diperkirakan mencapai 4,7 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi nasional diprediksi sekitar 3,9 juta ton.
Dengan surplus yang ada, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan harga dari hulu hingga hilir. Intervensi di sisi hilir, seperti subsidi biaya angkut, perlu diimbangi dengan dukungan di sisi hulu yang menyasar peternak unggas.
Program Stabilisasi Pasokan Pangan
Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pelaksanaan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk jagung pakan. Langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, agar jajarannya terus mengawasi ketersediaan jagung sebagai pakan ternak.
Dengan menjaga ketersediaan jagung pakan, diharapkan peternak dapat memperoleh bahan baku dengan harga yang lebih kompetitif. Ini adalah langkah strategis untuk memastikan sektor peternakan, khususnya ayam ras, tetap produktif dan berkelanjutan.
Kebijakan untuk Mendukung Peternak Unggas
Sebelumnya, Kepala Bapanas juga menginstruksikan Perum Bulog untuk terus memberikan pelayanan kepada peternak unggas yang memerlukan jagung pakan dengan harga yang lebih ekonomis. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu peternak dalam mengurangi beban biaya produksi yang saat ini sedang meningkat.
Dengan dukungan yang tepat, diharapkan peternak unggas dapat terus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan konsumsi daging ayam di pasar, sekaligus menjaga stabilitas harga agar tidak membebani masyarakat.
Melalui langkah-langkah yang diambil oleh Bapanas dan pemerintah, diharapkan harga ayam dapat terjaga dan masyarakat dapat terus menikmati akses terhadap pangan yang bergizi, terutama dalam situasi yang penuh tantangan ini.
➡️ Baca Juga: Mykhailo Mudryk Cedera Pergelangan Kaki, Absen Berminggu-minggu dari Pertandingan
➡️ Baca Juga: Cek Status Bansos April 2026: Informasi PKH dan BPNT yang Harus Anda Ketahui Sekarang




