Warga Makassar Antre Sejak Subuh untuk Beli BBM di SPBU Karena Pasokan Terhambat

Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, fenomena antrean panjang untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) kembali terjadi. Sejak pagi buta pada hari Kamis, warga telah berbondong-bondong menuju Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) untuk menunggu pasokan yang diharapkan dari PT Pertamina Patra Niaga. Ketidakpastian mengenai ketersediaan bensin memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat, yang merasa perlu untuk segera mendapatkan bahan bakar guna mendukung aktivitas sehari-hari mereka.

Antrean Panjang di SPBU Makassar

Heru, seorang warga yang menunggu di SPBU Manggala, mengungkapkan pengalamannya, “Saya sudah antre sejak subuh untuk mendapatkan bensin, karena tidak mau kehabisan lagi. Antrian di sini sangat panjang.” Rasa cemas akan kehabisan bahan bakar membuat banyak warga berusaha datang lebih awal untuk memastikan mereka mendapatkan jatah BBM yang mereka butuhkan.

Pantauan di beberapa SPBU, seperti yang terletak di Jalan Letnan Jenderal Hertasning dan Aroepala, menunjukkan bahwa masyarakat sudah berkumpul sejak dini hari untuk menunggu pasokan BBM. Namun, mereka harus menghadapi kenyataan pahit bahwa tidak ada kepastian mengenai kapan pasokan tersebut akan tiba.

Kurangnya Informasi tentang Pasokan BBM

Wawan, seorang pegawai di SPBU nomor 74.902.50 Jalan Aroepala, menjelaskan situasi yang dihadapi mereka, “Bensinnya sudah habis dan pasokan belum datang. Kami sudah memesan sejak kemarin, tetapi hingga kini belum ada kepastian.” Ia menambahkan bahwa meskipun ada aplikasi yang dapat digunakan untuk melacak distribusi BBM, tidak ada respons jelas dari pihak Pertamina mengenai waktu pengiriman.

Pihak SPBU hanya bisa menjual BBM yang mereka terima, dan tidak memiliki informasi tentang kapan pasokan berikutnya akan tiba. Hal ini menambah keprihatinan di kalangan masyarakat yang terus antre, berharap mendapatkan bahan bakar yang mereka butuhkan.

Kehadiran Aparat untuk Mengatur Antrean

Di tengah situasi yang semakin memanas, beberapa SPBU juga dijaga oleh aparat kepolisian dan petugas Dinas Perhubungan. Mereka bertugas untuk mengatur kendaraan yang sudah parkir di sepanjang jalan, akibat antrean panjang yang menyebabkan kemacetan parah. Kondisi ini menciptakan tantangan tambahan bagi masyarakat yang hanya ingin mendapatkan BBM.

Usman, seorang supir, mengungkapkan kekecewaannya, “Sampai kapan keadaan seperti ini akan berlanjut? Masyarakat terus-menerus kesulitan mendapatkan bahan bakar.” Ia menegaskan bahwa masalah ini tidak hanya terjadi pada BBM bersubsidi, tetapi juga pada BBM non-subsidi yang sulit didapatkan. Kondisi ini menunjukkan betapa memprihatinkannya ketahanan energi di wilayah tersebut.

Antrean di Pom Mini Tak Resmi

Ironisnya, antrean panjang juga terlihat di pom mini yang tidak resmi, di mana banyak pembeli berusaha mendapatkan bensin meskipun harus menunggu lama. Hal ini menunjukkan bahwa kelangkaan BBM telah menciptakan masalah yang lebih luas, dan memaksa masyarakat untuk mencari alternatif, meskipun dengan risiko dan ketidakpastian.

Langkah Pihak Berwenang

Menanggapi situasi ini, Pimpinan DPRD Sulsel mengunjungi Kantor PT Pertamina Regional Sulawesi untuk mendapatkan penjelasan mengenai fenomena antrean panjang di SPBU. Dalam pertemuan tersebut, Ketua DPRD Sulsel, Andi Rachmatika Dewi, menyatakan, “Kami menerima banyak aspirasi dari masyarakat mengenai antrean panjang di SPBU yang menyebabkan kemacetan. Kami berharap Pertamina dapat memberikan langkah konkret untuk mengatasi masalah ini.”

Sales Area Manager Retail Sulselbar PT Pertamina Patra Niaga, Rainier Axel Siegfried Parlindungan Gultom, menjelaskan bahwa fenomena antrean ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk tingginya permintaan dan perilaku panic buying di masyarakat. “Kenaikan permintaan dari sektor pariwisata dan logistik sangat mempengaruhi situasi ini. Kami terus menyuplai BBM ke SPBU setiap hari, tetapi antrean tetap terjadi,” ujarnya.

Faktor Penyebab Antrean

Dalam penjelasannya, pihak Pertamina juga mencatat bahwa perilaku konsumen yang tidak terkontrol dan informasi yang salah dapat memperburuk situasi. “Ada berita yang menyatakan akan ada kenaikan harga BBM dan elpiji, namun itu tidak benar,” imbuhnya. Hal ini menunjukkan pentingnya informasi yang akurat untuk mencegah kepanikan di masyarakat.

Respons dari Masyarakat

Di media sosial, banyak warga yang mengeluhkan antrean panjang dan kelangkaan BBM. Meski tidak ada isu resmi mengenai kenaikan harga BBM bersubsidi, video dan keluhan masyarakat mengenai antrean berjam-jam di SPBU menjadi viral. Sementara itu, pengumuman mengenai kewajiban menunjukkan STNK untuk membeli bensin subsidi pada 15 September 2026 juga menambah kerumitan situasi.

Tantangan dalam mendapatkan BBM di Makassar mencerminkan masalah yang lebih besar dalam sistem distribusi energi di Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan dan ketidakpastian pasokan, masyarakat merasa terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Keberadaan masyarakat yang terpaksa antre sejak subuh menjadi bukti nyata betapa pentingnya pengelolaan pasokan BBM yang lebih baik di masa mendatang.

Potensi Solusi untuk Masalah Pasokan

Mencari solusi untuk masalah pasokan BBM di Makassar memerlukan kerjasama antara pihak Pertamina, pemerintah, dan masyarakat. Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan meliputi:

Dengan mengambil langkah-langkah ini, diharapkan masalah antrean panjang dan kelangkaan BBM di Makassar dapat teratasi, dan masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar yang mereka butuhkan. Keberlanjutan pasokan BBM yang baik akan menjadi kunci untuk mendukung aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat di daerah tersebut.

➡️ Baca Juga: Sandy Walsh Terpesona Melihat Ribuan Bobotoh Hadiri Latihan Persib di GBLA Jelang Lawan Persija

➡️ Baca Juga: Warga Berbondong-Bondong Berlibur ke Pantai Pasaman Barat Saat Angin Laut Bertiup

Exit mobile version