Warga Agam Kembangkan Ekonomi Meski Terbatas, Berdayakan Huntara untuk Bertahan

AGAM – Di tengah keterbatasan yang dihadapi oleh warga yang tinggal di hunian sementara di Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, semangat dan harapan para penyintas bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam tetap berkobar. Mereka tidak membiarkan kondisi sulit menghambat langkah mereka untuk membangun kembali kehidupan yang lebih baik.
Menata Ulang Kehidupan di Tengah Keterbatasan
Dari bilik-bilik hunian yang sederhana, para penyintas mulai merancang kembali kehidupan mereka dengan berbagai usaha kecil. Mereka tidak hanya berfokus pada bertahan hidup, tetapi juga berupaya untuk menghidupkan roda ekonomi yang sempat terhenti. Dengan penuh determinasi, mereka melakukan berbagai aktivitas, seperti berdagang dan saling mendukung satu sama lain untuk memastikan ekonomi lokal tetap berjalan.
Walaupun situasi yang dihadapi jauh dari ideal, hunian sementara ini bukan sekadar tempat berlindung. Ini adalah simbol ketahanan dan harapan bagi mereka yang berusaha untuk bangkit dari keterpurukan.
Semangat Gotong Royong untuk Mempertahankan Ekonomi
Dengan semangat gotong royong yang tinggi dan tekad yang tidak pernah pudar, para penyintas terus berjuang untuk menjaga dinamika ekonomi di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih. Pada Rabu (18/3), beberapa di antara mereka tetap melanjutkan aktivitas ekonomi yang sudah mereka jalani sebelumnya, meskipun dalam kondisi yang terbatas.
Ada warga yang menerima pesanan katering sederhana, sementara lainnya kembali menjalankan usaha menjahit. Semua ini menggambarkan bagaimana mereka beradaptasi dan berinovasi untuk tetap bertahan.
Usaha Katering yang Berjalan di Hunian Sementara
Fina (29), salah seorang penyintas yang tinggal di huntara, mengungkapkan bahwa dia masih aktif menerima pesanan makanan untuk acara buka bersama. Aktivitas ini telah menjadi sumber penghasilan baginya, meskipun berada dalam situasi yang tidak ideal.
“Untuk buka bersama di huntara, sudah dua kali. Namun, untuk warga di luar, saya sudah banyak menerima orderan. Dari karyawan MBG dan warga setempat juga ada yang pesan langsung untuk diambil,” jelas Fina, yang sebelumnya menjalankan usaha di lokasi yang terkena bencana.
- Mematok harga antara Rp17 ribu hingga Rp20 ribu per paket makanan.
- Menerima pesanan buka bersama sebanyak 350 paket pecel ayam, meskipun hanya bisa menyanggupi 200 paket.
- Tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku dari pasar setempat.
- Perlu menempuh perjalanan sekitar 45 menit untuk mendapatkan kemasan di Lubuk Basung.
- Menawarkan menu sederhana namun tetap memberikan kualitas yang baik.
Kegiatan Menjahit yang Kembali Bergeliat
Di samping usaha katering, aktivitas menjahit juga menunjukkan perkembangan positif. Beberapa warga memanfaatkan mesin jahit yang berhasil diselamatkan saat bencana untuk menerima pesanan perbaikan maupun pembuatan pakaian. Hal ini menunjukkan kreativitas dan ketahanan mereka dalam menghadapi tantangan.
Keberanian untuk Memulai Kembali
Jurspartima, salah satu penyintas, menuturkan bahwa dia baru mulai menjahit sekitar dua minggu yang lalu setelah mesin jahitnya diperbaiki dari kerusakan akibat lumpur. Meskipun bekerja dalam ruang yang terbatas, dia berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan pesanan baju seragam sekolah tepat waktu.
“Dapat pesanan 10 kodi baju pramuka. Ongkos menjahitnya Rp90 ribu per kodi, sedangkan bahan serta pemotongan disediakan oleh bos, jadi saya hanya perlu menyatukan saja,” ungkapnya.
Walaupun ia sempat ditawari untuk menjahit baju gamis, Jurspartima dengan bijak memilih untuk menolak tawaran tersebut demi fokus pada pesanan yang sudah ada. Ini menunjukkan bagaimana dia mengelola waktu dan sumber daya yang dimiliki dengan sangat baik.
Menjaga Harapan di Tengah Kesulitan
Keberanian dan kreativitas para penyintas di Agam dalam mengembangkan ekonomi mereka meskipun dalam keterbatasan menjadi contoh nyata dari semangat juang yang tak tergoyahkan. Mereka memahami bahwa meskipun tantangan besar di depan, harapan dan usaha untuk bangkit harus tetap ada.
Dengan terus berinovasi dan saling mendukung, diharapkan ekonomi Agam akan semakin pulih dan berkembang. Setiap usaha kecil yang mereka lakukan, baik itu dalam bentuk katering, menjahit, atau usaha lainnya, menjadi bagian penting dari pemulihan yang lebih besar.
Setiap langkah kecil yang diambil oleh warga Agam adalah bukti bahwa mereka tidak hanya bertahan, tetapi juga berjuang untuk membangun masa depan yang lebih baik. Dengan semangat gotong royong dan keberanian, mereka siap menghadapi tantangan yang ada di depan dan terus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal.
➡️ Baca Juga: Paket Wisata Menarik dari Kemenpar untuk Libur Lebaran Tanpa Kebingungan!
➡️ Baca Juga: 500 Petugas Satpol PP Jakarta Timur Siaga Amankan Titik Keramaian Selama Lebaran




