Mengatasi Kesenjangan Gender di Era AI: Langkah Lebih Jauh dari Sekedar Kesadaran

Mengatasi kesenjangan gender dalam bidang teknologi, khususnya di era AI, adalah tantangan yang semakin mendesak. Pada Hari Perempuan Internasional tahun ini, kita diingatkan bahwa investasi pada kemajuan perempuan di tempat kerja bukan hanya isu kesetaraan sosial, melainkan juga isu strategis bisnis. Tim yang lebih beragam memberikan akses kepada bakat yang lebih luas, memperkaya perspektif dalam pengambilan keputusan, dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Namun, perempuan saat ini menghadapi risiko ganda dalam ekonomi berbasis AI. Di satu sisi, mereka masih kurang terwakili dalam posisi yang berkaitan dengan AI. Di sisi lain, perempuan justru banyak berada di posisi yang paling rentan terdampak oleh otomatisasi.
Perempuan dan Teknologi AI: Data dan Realita
Data dari Asian Development Bank (ADB) menunjukkan bahwa perempuan yang menjadi peneliti di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Asia Pasifik hanya mencakup 23,9%, lebih rendah dari rata-rata global 29,3%. Di Indonesia, gambarannya sama: hanya 27% dari total tenaga kerja di bidang teknologi adalah perempuan. Tantangannya bukan hanya soal angka, tetapi juga struktural, seperti stereotip gender, kurangnya rasa percaya diri, dan minimnya role model. Di komunitas developer, jurangnya bahkan lebih lebar. Menurut data, hanya terdapat 78 perempuan dibanding 922 laki-laki.
Dampak Kesenjangan Gender dalam Pengembangan AI
Dampak kesenjangan gender ini tidak hanya berhenti pada ketimpangan tenaga kerja. Banyak sistem AI yang akhirnya dibangun tanpa memperhatikan kebutuhan dan perspektif perempuan. Perempuan hanya menduduki 23% posisi senior dan hanya 8% posisi teknis senior dalam industri ini. IDC memprediksi bahwa pada 2027, setengah dari perusahaan akan menggunakan agen AI untuk mendefinisikan ulang kolaborasi antara manusia dan mesin. Ketika sistem-sistem ini mulai memengaruhi keputusan bisnis yang krusial, organisasi perlu mencari potensi blind spot tentang siapa yang membangun, menguji, dan mengawasi teknologi ini.
Peran HR dalam Pengembangan AI yang Etis
Laporan menunjukkan bahwa hanya 13% tim HR yang memimpin keputusan strategis terkait AI. Hampir setengah perusahaan di APAC menyebut IT sebagai pengendali utama adopsi AI. Ketika HR baru dilibatkan di tahap akhir, keputusan penting terkait desain tenaga kerja, seperti bagaimana pekerjaan yang ada akan berevolusi, bagaimana pekerjaan didesain ulang, dan keterampilan apa yang dibutuhkan, sering kali terlambat dibahas. Di titik inilah kesenjangan gender bisa semakin melebar.
Langkah-langkah dalam Mengatasi Kesenjangan Gender di Era AI
- Melibatkan suara yang beragam dalam menentukan arah produk dan hak pengambilan keputusan.
- Melakukan audit dataset untuk melihat celah representasi.
- Melakukan stress test pada edge cases.
- Menghadirkan panel peninjau manusia yang beragam di sepanjang siklus hidup AI.
Mengoptimalkan Potensi Tenaga Kerja Perempuan
Di Indonesia yang membutuhkan lebih dari 12 juta talenta digital pada 2030, mengoptimalkan potensi penuh tenaga kerja perempuan adalah langkah paling logis untuk menutup defisit tersebut. Program seperti Women Leaders in Technology (WLIT) adalah contoh ruang bagi perempuan dan sekutunya untuk terhubung, belajar, dan lebih membuka peluang menuju posisi-posisi pemimpin. Dengan keberagaman kognitif dan inklusi, kita akan memperkuat cara kita membangun teknologi dan melayani pelanggan. Melalui program mentoring terstruktur, inisiatif jejaring, dan kanal umpan balik berkelanjutan, perusahaan secara aktif membuka jalur pertumbuhan kepemimpinan bagi perempuan.
Ketika perempuan diberi akses pada sumber daya, peluang, dan otoritas dalam pengembangan AI, organisasi tidak hanya membangun sistem AI yang lebih baik untuk semua orang. Di era AI, keberagaman dalam kepemimpinan dan pengawasan adalah bagian dari manajemen risiko AI itu sendiri. Organisasi yang mampu memformalkan pendekatan lintas fungsi, menciptakan jalur transisi yang jelas, dan mengakui kecerdasan emosional sebagai kompetensi teknis akan membangun AI yang lebih kuat sekaligus mendorong kemajuan kesetaraan gender.
➡️ Baca Juga: Pemprov Lampung Bersama Forkopimda Resmi Teken Naskah Hibah Daerah
➡️ Baca Juga: Mapel Pilihan TKA SMA/SMK 2026 Bakal Ditambah Jadi 69, Apa Saja?




