Strategi Pengalihan Anggaran Prioritas dalam Menghadapi Dilema Harga Minyak dan Ancaman Resesi

Pertikaian geopolitik yang semakin memanas, terutama antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, telah mendorong harga minyak dunia ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harga minyak yang telah mencapai lebih dari US$ 100 per barel, jauh melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia, menuntut pemerintah untuk segera bertindak. Dilema yang dihadapi adalah apakah harus menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mungkin memicu inflasi dan resesi, atau apakah harus mengalihkan anggaran dari program-program prioritas yang telah ditetapkan.
Kenaikan harga minyak global secara langsung mengancam stabilitas APBN, terutama kemampuan pemerintah untuk mempertahankan subsidi energi, khususnya subsidi BBM bagi masyarakat. Jika APBN tidak mampu lagi memikul beban subsidi, pemerintah akan dipaksa untuk menaikkan harga BBM, sebuah tindakan yang bisa menimbulkan efek domino yang merusak bagi ekonomi Indonesia.
Menurut Fahmy Radhi, seorang pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada, kenaikan harga BBM di tengah kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya dapat memicu inflasi harga barang kebutuhan pokok, yang pada gilirannya akan menggerus daya beli masyarakat. “Jika harga energi subsidi naik, ini akan berdampak pada inflasi yang mungkin cukup tinggi, dan juga penurunan daya beli, yang akan membebani rakyat kecil,” kata Fahmy.
Fahmy juga memperingatkan bahwa kenaikan harga BBM menjelang musim mudik Lebaran akan memperburuk situasi. Inflasi akan terjadi dua kali lipat, karena momentum hari raya secara alami mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok. “Sangat berisiko jika harga naik sekarang. Apalagi jika kenaikan itu bertepatan dengan hari raya. Hari raya ini pasti akan menyebabkan inflasi, sehingga terjadi double counting inflation,” jelasnya.
Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), setuju dengan Fahmy dan menambahkan bahwa kenaikan harga BBM dapat secara perlahan mendorong ekonomi Indonesia ke jurang resesi. Bhima memperkirakan bahwa jika harga BBM naik karena APBN tidak lagi mampu menanggung subsidi, inflasi bisa melonjak hingga 6-8% setiap tahunnya. Kondisi ini akan mendorong masyarakat untuk menahan konsumsi, sementara industri akan mengalami penurunan permintaan, yang pada akhirnya akan memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
“Pada akhirnya, PHK akan meningkat secara signifikan di semua sektor, termasuk industri manufaktur dan perdagangan,” kata Bhima. PHK massal akan menyebabkan penurunan jumlah kelas menengah dan meningkatkan jumlah penduduk yang rentan terhadap kemiskinan. Penurunan daya beli yang berkelanjutan akhirnya akan mendorong ekonomi Indonesia ke dalam resesi. “Jumlah kelas menengah yang menurun menjadi rentan dan miskin meningkat secara signifikan, Indonesia bisa masuk resesi ekonomi,” kata Bhima.
Menghadapi ancaman inflasi dan resesi akibat kenaikan harga minyak global, pemerintah dihadapkan pada pilihan yang sulit. Salah satu solusi yang mungkin adalah strategi pengalihan anggaran prioritas, tetapi ini tentu juga memiliki konsekuensinya sendiri. Pilihan ini membutuhkan penimbangan yang hati-hati dan kebijakan yang tepat agar dapat memberikan hasil yang optimal bagi perekonomian Indonesia.
➡️ Baca Juga: Hello world!
➡️ Baca Juga: Mengulas Momen Nadin Amizah di Atas Panggung Saat Vidi Meninggal: Sebuah Kronologi Tanpa Henti


