Praktik brandu, yang sering dilakukan untuk membantu peternak yang mengalami kesulitan akibat ternaknya yang terinfeksi atau mati, ternyata menyimpan risiko serius sebagai jalur penularan antraks kepada manusia. Ketika hewan yang terinfeksi disembelih, dikuliti, dan kemudian dibagikan atau dikonsumsi, potensi penularan penyakit ini sangat tinggi.
Pentingnya Memahami Praktik Brandu
Menurut Prof. drh. Widagdo Sri Nugroho, seorang Guru Besar di Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), praktik brandu merupakan bentuk solidaritas sosial yang bertujuan untuk meringankan beban peternak. Namun, tindakan ini bisa menjadi berbahaya jika dilakukan pada ternak yang terjangkit antraks.
“Secara prinsip, brandu adalah tindakan baik yang mendukung mereka yang tengah kesulitan akibat kematian ternak. Ini merupakan manifestasi dari semangat gotong royong. Namun, dalam konteks antraks, risiko yang ditanggung oleh masyarakat menjadi sangat signifikan,” jelasnya.
Kasus Antraks di Gunungkidul
Peringatan ini muncul setelah terjadinya kasus antraks di Gunungkidul pada bulan September lalu. Dinas Kesehatan setempat melaporkan bahwa empat pasien yang sebelumnya positif antraks telah pulih setelah mendapatkan perawatan. Sebelumnya, tujuh orang dari Dusun Pelem, Kalurahan Semanu, teridentifikasi sebagai suspek karena memiliki kontak dengan ternak yang mati mendadak.
Penyebab dan Penularan Antraks
Widagdo menjelaskan bahwa antraks disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis, yang dapat membentuk spora dan bertahan di lingkungan selama beberapa dekade. Dalam hal penularan kepada manusia, ada beberapa saluran yang dapat menjadi media penularan, yaitu melalui kulit, saluran pencernaan, dan pernapasan.
Orang yang terlibat dalam penyembelihan atau pengulitan ternak yang terinfeksi berisiko tinggi untuk terpapar melalui luka-luka, bahkan yang sangat kecil sekalipun. Selain itu, jika daging hewan terinfeksi tersebut dikonsumsi, penularan dapat terjadi melalui saluran pencernaan.
Risiko Praktik Brandu dalam Konteks Antraks
“Dengan kata lain, kebiasaan brandu ketika diterapkan pada hewan yang terinfeksi antraks dapat menjadi sumber penularan bagi manusia,” tegasnya.
Widagdo menambahkan bahwa terulangnya kasus antraks di Gunungkidul menunjukkan urgensi untuk memperkuat upaya pencegahan agar penyakit ini tidak kembali menular kepada manusia.
Pentingnya Vaksinasi dan Pengawasan
“Di Gunungkidul, ini merupakan tanggung jawab bersama kita untuk mengendalikan antraks agar tidak menjangkiti manusia lagi,” imbuhnya.
Vaksinasi menjadi langkah utama dalam mencegah antraks pada hewan ternak. Selain itu, pengawasan yang ketat juga diperlukan terhadap ternak yang baru saja didatangkan dari luar daerah, serta ternak yang baru lahir yang belum mendapatkan vaksinasi.
“Intinya, vaksinasi adalah kunci untuk mencegah antraks di hewan,” tambahnya.
Edukasi Masyarakat sebagai Langkah Preventif
Di samping vaksinasi, perluasan edukasi kepada masyarakat juga menjadi hal yang sangat penting. Ini tidak hanya ditujukan kepada para peternak, tetapi juga perlu menjangkau perempuan dan generasi muda. Nilai gotong royong yang terkandung dalam praktik brandu tetap bisa dipertahankan, namun seharusnya dalam bentuk bantuan yang tidak meningkatkan risiko penularan penyakit.
- Memberikan informasi tentang bahaya antraks kepada masyarakat.
- Mendorong praktik penyembelihan yang aman dan higienis.
- Melakukan vaksinasi secara teratur pada hewan ternak.
- Menjalin komunikasi yang baik antara peternak dan dinas kesehatan.
- Mengembangkan metode alternatif untuk membantu peternak tanpa risiko kesehatan.
“Kita tetap berusaha untuk mempertahankan semangat gotong royong, tetapi harus dalam konteks yang aman dan tidak berisiko terhadap kesehatan, terutama terkait dengan penyakit hewan berbahaya seperti ini,” ujarnya.
Faktor Penyebab Kasus Antraks Berulang
Dr. Riris Andono, Ph.D., seorang dosen di Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM, menambahkan bahwa kemunculan kasus antraks yang berulang di Gunungkidul juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya adalah mobilitas ternak, kondisi ekonomi peternak, serta keberadaan spora di lingkungan.
Faktor-faktor ini saling terkait dan harus dipertimbangkan dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyebaran antraks. Mobilitas ternak yang tinggi dapat meningkatkan kemungkinan terpapar bakteri, sedangkan kondisi ekonomi yang sulit dapat mendorong peternak untuk mengambil keputusan yang berisiko.
Oleh karena itu, kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor kesehatan sangat diperlukan untuk mencegah terulangnya kasus antraks di masa mendatang.
Dengan memahami risiko praktik brandu dan menerapkan tindakan pencegahan yang tepat, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari potensi penularan antraks. Edukasi yang menyeluruh dan vaksinasi yang konsisten adalah dua langkah kunci dalam menjaga kesehatan masyarakat serta kesejahteraan peternak.
➡️ Baca Juga: Optimalkan Strategi Pemasaran Komunitas: Transformasi Pelanggan Menjadi Pembela Merek Anda
➡️ Baca Juga: Peran Kapten Tim dalam Memimpin Rekan di Lapangan Sepak Bola yang Efektif dan Berpengaruh
