Krisis Energi Akibat Perang Iran Setara dengan Guncangan Energi Tahun 70-an dan Perang Ukraina

Krisis energi yang sedang melanda dunia saat ini, yang dipicu oleh konflik bersenjata di Iran, diibaratkan oleh Fatih Birol, Kepala Badan Energi Internasional (IEA), sebagai bencana yang setara dengan gabungan dua guncangan minyak yang terjadi pada tahun 1970-an serta dampak dari invasi Rusia ke Ukraina. Dengan situasi yang semakin memburuk, penting untuk memahami bagaimana peristiwa ini dapat mempengaruhi ekonomi global dan apa yang perlu dilakukan untuk mengatasinya.
Memahami Krisis Energi Global
Birol mengungkapkan bahwa efek dari krisis energi saat ini sangat luas, berpotensi merusak “urat nadi vital ekonomi global”. Ini termasuk sektor-sektor penting seperti petrokimia, pupuk, sulfur, dan helium, yang semuanya berkontribusi pada stabilitas ekonomi dunia. Ketidakpastian yang melanda pasar energi juga menciptakan gelombang kekhawatiran di kalangan pemimpin global, yang tampaknya belum sepenuhnya menyadari seberapa dalam masalah ini merasuk.
Dampak Awal Konflik di Iran
Dalam sebuah pernyataan di National Press Club of Australia, Birol menjelaskan bahwa dampak dari serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel di Iran, serta penutupan Selat Hormuz yang strategis, belum sepenuhnya dipahami oleh banyak pemimpin dunia. Situasi ini menuntut perhatian serius dan tindakan cepat dari pihak-pihak terkait.
Menanggapi kondisi ini, IEA telah menyerukan sejumlah langkah untuk merespons penurunan permintaan energi, termasuk:
- Peningkatan jumlah pekerja yang bekerja dari rumah
- Penurunan batas kecepatan di jalan raya
- Pengurangan perjalanan udara
- Peningkatan efisiensi energi
- Penggunaan transportasi publik yang lebih luas
Kondisi Infrastruktur Energi di Wilayah Teluk
Birol juga mengingatkan bahwa sekitar 40 aset energi di kawasan Teluk telah mengalami kerusakan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun konflik berakhir, pemulihan pasokan energi tidak akan terjadi dengan segera. Dengan hilangnya sekitar 11 juta barel minyak per hari akibat krisis ini, dunia menghadapi tantangan yang lebih besar dibandingkan dengan dua krisis minyak sebelumnya pada tahun 1973 dan 1979, di mana masing-masing menghilangkan sekitar 5 juta barel per hari.
Dampak Invasi Rusia ke Ukraina
Invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022 juga menciptakan dampak besar, di mana sekitar 75 miliar meter kubik gas alam hilang dari pasar internasional. Krisis energi yang sekarang terjadi, yang dimulai dengan serangan terhadap rezim di Teheran pada 28 Februari, telah memperparah situasi ini dengan kehilangan yang lebih besar, mencapai 11 juta barel minyak per hari dan sekitar 140 miliar meter kubik gas.
Langkah Darurat IEA
Pada tanggal 11 Maret, Birol memimpin pelepasan 400 juta barel minyak dari cadangan strategis, yang merupakan tindakan darurat terbesar dalam sejarah IEA. Meskipun ada surplus di pasar minyak global yang diproyeksikan pada awal tahun 2026, pemogokan yang terjadi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi 20% pasokan minyak dunia, telah menyebabkan kekurangan yang signifikan dan meningkatkan kekhawatiran di seluruh dunia.
Reaksi Internasional Terhadap Situasi
Presiden AS, Donald Trump, memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, mengancam bahwa jika tidak, Teheran akan menghadapi kerusakan besar pada infrastruktur energinya. Batas waktu tersebut akan berakhir pada malam hari Senin, menciptakan ketegangan lebih lanjut dalam situasi yang sudah rumit ini.
Pentingnya Selat Hormuz bagi Ekonomi Global
Birol menekankan bahwa Asia Pasifik adalah salah satu kawasan yang paling terpengaruh oleh penutupan Selat Hormuz. “Salah satu solusi terpenting untuk mengatasi masalah ini adalah membuka kembali Selat Hormuz,” ujarnya. Penutupan selat ini tidak hanya berdampak pada pasokan energi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi di seluruh dunia.
Respon Iran terhadap Ancaman
Menanggapi ancaman dari Trump, militer Iran mengancam akan menargetkan infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi yang dimiliki oleh AS dan sekutunya di kawasan tersebut. Ini menunjukkan bahwa situasi ini tidak hanya berpotensi menciptakan krisis energi, tetapi juga memicu ketegangan lebih lanjut antara negara-negara besar.
Peran Negara-Negara Lain dalam Krisis Ini
Trump juga mengkritik anggota NATO serta negara-negara seperti Australia, Jepang, dan Korea Selatan karena dianggap tidak berkontribusi dalam situasi di Selat Hormuz. Pada hari Minggu, Jepang menyatakan bahwa mereka mungkin mempertimbangkan untuk mengerahkan angkatan bersenjatanya untuk membantu upaya penanggulangan ranjau jika gencatan senjata dapat dicapai. Hal ini mencerminkan bahwa krisis energi ini telah menciptakan dinamika baru dalam hubungan internasional.
Kesimpulan: Membangun Resiliensi Energi Global
Krisis energi yang dipicu oleh konflik di Iran menjadi pengingat kuat bahwa ketergantungan global pada sumber energi tertentu dapat menciptakan kerentanan. Untuk mencegah krisis serupa di masa depan, diperlukan kerjasama internasional yang lebih erat dalam diversifikasi sumber energi dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Hanya dengan cara ini, dunia dapat membangun ketahanan terhadap guncangan yang tidak terduga.
➡️ Baca Juga: Pedas dan Segar, Sambal Oen Peugaga Ramai Diburu Jelang Berbuka



