Karhutla di Way Kambas Terus Meluas, Api Mengancam Kawasan Konservasi

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur, Lampung, telah mencapai titik kritis. Hingga Sabtu siang, kobaran api masih terlihat jelas dan semakin meluas ke berbagai area dalam kawasan konservasi yang penting ini. Ancaman terhadap habitat alami dan keanekaragaman hayati semakin meningkat, menuntut perhatian dan tindakan segera dari pihak berwenang serta masyarakat.
Lokasi dan Penyebaran Kebakaran
Menurut informasi dari Kapolres Lampung Timur, AKBP Yulianayah, kebakaran terjadi di daerah Jati 3 yang terletak di Resort Kuala Penet, SPTN Wilayah III Kuala Penet, Kecamatan Braja Selebah. Lokasi ini merupakan bagian dari TNWK yang dikenal kaya akan flora dan fauna.
“Kobaran api masih terus menyebar dari titik awal di Jati 3 menuju Rawa Mbah Sapon, Grid 7S,” ungkap Yulianayah. Penyebaran api yang cepat ini menunjukkan besarnya ancaman yang dihadapi oleh kawasan konservasi.
Tantangan dalam Pemadaman
Petugas yang terlibat dalam upaya pemadaman menghadapi berbagai kendala yang cukup serius. Tingginya kobaran api dan kondisi angin yang kencang membuat proses pemadaman menjadi semakin sulit. Selain itu, keterbatasan peralatan juga menjadi masalah utama dalam mengatasi kebakaran ini.
“Kendala lain yang dihadapi adalah medan yang sulit diakses. Lokasi kebakaran yang terpencil membuat mobilisasi personel dan peralatan pemadam menjadi sangat terbatas,” tambahnya.
Sebagai langkah sementara, upaya pemadaman dilakukan secara manual. Meskipun demikian, hingga saat ini api masih belum dapat dipadamkan sepenuhnya.
Luasan Kawasan yang Terkena Dampak
Berdasarkan laporan sementara, luas area Taman Nasional Way Kambas yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 673,4 hektare. Angka ini menunjukkan skala kebakaran yang cukup signifikan dan memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak.
Para petugas gabungan tetap berusaha untuk menanggulangi kobaran api agar tidak meluas ke area konservasi lainnya yang juga memiliki nilai ekologis tinggi.
Pengawasan dan Tindakan Lanjutan
Kapolres Lampung Timur juga menambahkan bahwa laporan lengkap mengenai perkembangan kebakaran masih ditunggu seiring dengan pemantauan dan penanganan yang dilakukan oleh petugas di lapangan. “Kami masih menunggu informasi lebih lanjut tentang kondisi di lapangan,” ujarnya.
Personel dan Peralatan yang Terlibat
Proses pemadaman melibatkan berbagai pihak, termasuk 14 personel Polisi Kehutanan (Polhut), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), 10 personel dari Polsek Braja Selebah, serta lima personel TNI dari Koramil Way Jepara. Kerja sama lintas institusi ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi.
Dalam upaya pemadaman, petugas menggunakan beberapa peralatan seperti tangki semprot manual Alpa dan alat gepyok kayu untuk mengendalikan si jago merah yang berkobar.
Koordinasi antara Berbagai Unsur
Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas, MHD Zaidi, menjelaskan bahwa upaya pemadaman dilakukan secara kolaboratif antara petugas balai, TNI, Polri, dan relawan. “Saat ini, tim gabungan dari balai didukung oleh TNI-Polri dan relawan masih berupaya untuk memadamkan api,” ujar Zaidi.
Situasi yang dihadapi saat ini menegaskan pentingnya kerjasama dan kolaborasi antara berbagai pihak dalam menanggulangi karhutla di kawasan yang dilindungi ini. Dengan penanganan yang tepat, diharapkan dampak negatif dari kebakaran ini dapat diminimalisir dan kawasan konservasi dapat kembali pulih.
➡️ Baca Juga: Arus Mudik Dukupuntang H-3 Lebaran Tetap Normal, Simak Video Terbaru Kami
➡️ Baca Juga: Optimalkan Strategi Pemasaran Komunitas: Transformasi Pelanggan Menjadi Pembela Merek Anda




