Antrean 12 KM di Pelabuhan Ketapang, ASDP Terapkan Strategi Darurat untuk Truk Logistik

Jakarta – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) kini tengah memperkuat manajemen operasional di Pelabuhan Ketapang untuk menangani lonjakan jumlah truk logistik yang signifikan. Hal ini terjadi pasca-berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan sumbu tiga, yang sebelumnya diterapkan untuk mengatur arus lalu lintas di kawasan tersebut.

Antrean Panjang di Pelabuhan Ketapang

Data terbaru menunjukkan bahwa antrean kendaraan menuju Pelabuhan Ketapang mencapai 12 kilometer pada Selasa, 31 Maret. Hal ini bertepatan dengan peningkatan arus balik menuju Bali. Menurut Wakil Direktur Utama ASDP, Yossianis Marciano, pihaknya telah mengoperasikan 36 kapal dengan skema tiba-bongkar-berangkat (TBB) dan memaksimalkan buffer zone di Dermaga Bulusan untuk menjaga kelancaran mobilitas pengguna jasa lainnya.

“Kami melakukan langkah ini agar arus logistik tetap terlayani dengan baik tanpa mengganggu kelancaran perjalanan pengguna jasa lainnya,” kata Yossianis. Meskipun Posko Angkutan Mudik telah ditutup, arus balik Lebaran di jalur Ketapang-Gilimanuk tetap menunjukkan dinamika yang tinggi.

Mobilitas Masyarakat yang Tinggi

Dari pagi hingga siang hari, kendaraan terus mengalir menuju Pelabuhan Ketapang. Hal ini mencerminkan tingginya mobilitas masyarakat yang kembali ke daerah asal atau melanjutkan aktivitas setelah libur panjang. Hingga pukul 15.00 WIB, arus kendaraan dari arah utara ke pelabuhan terpantau padat, dengan estimasi antrean mencapai sekitar 12 km. Komposisi kendaraan didominasi oleh truk logistik, bus, dan kendaraan pribadi yang terus bergerak menuju area pelabuhan.

Dampak Kebijakan Pembatasan

Kondisi antrean yang panjang ini merupakan bagian dari dinamika operasional pasca-berakhirnya kebijakan pembatasan kendaraan logistik sumbu tiga ke atas. Kebijakan tersebut diatur dalam Surat Keputusan Bersama (SKB) yang ditandatangani pada 5 Februari 2026. Sebelumnya, pembatasan ini diberlakukan di jalur Ketapang-Gilimanuk dari tanggal 13 hingga 29 Maret 2026.

Yossianis menegaskan bahwa lonjakan jumlah kendaraan logistik setelah pencabutan pembatasan tersebut menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya antrean di lintasan Ketapang-Gilimanuk. “Setelah berakhirnya pembatasan kendaraan logistik, terjadi peningkatan signifikan truk yang masuk ke Pelabuhan Ketapang. Meskipun antrean meningkat, kami tetap dapat mengendalikannya melalui penguatan manajemen operasional di lapangan,” ujarnya.

Strategi Darurat untuk Mengatasi Antrean

Untuk merespons situasi ini, ASDP berkolaborasi dengan regulator dan operator kapal dalam melakukan penyesuaian layanan secara adaptif. Beberapa langkah yang diambil meliputi penerapan pola TBB, penambahan trip dan armada kapal, serta pengendalian ritme kendaraan melalui buffer zone.

Optimasi Layanan untuk Kendaraan Logistik

Pengaturan arus kendaraan di pelabuhan menjadi prioritas utama. Dengan adanya buffer zone, ASDP berusaha untuk memastikan bahwa truk logistik dapat ditangani dengan efisien tanpa mengganggu arus kendaraan lainnya. Ini penting untuk menjaga kelancaran operasional di Pelabuhan Ketapang yang saat ini menjadi salah satu titik vital untuk distribusi barang, terutama selama periode arus balik seperti ini.

Keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada kolaborasi yang baik antara semua pihak terkait, termasuk pemerintah dan operator angkutan. Dengan langkah-langkah yang diambil, diharapkan antrean kendaraan dapat berkurang dan pelayanan kepada masyarakat dapat tetap optimal.

Kesimpulan Sementara

Walaupun situasi di Pelabuhan Ketapang masih menantang, upaya yang dilakukan oleh PT ASDP Indonesia Ferry menunjukkan komitmen untuk mengatasi masalah ini. Dengan memanfaatkan berbagai strategi dan kolaborasi, ASDP berupaya menjaga kelancaran arus logistik dan mobilitas masyarakat yang sangat penting dalam mendukung perekonomian.

➡️ Baca Juga: Gadget Terbaru Cocok Mendukung Aktivitas Belajar Online Lebih Efektif Harian Digital

➡️ Baca Juga: Pemprov Jawa Barat Siapkan Pembayaran Gaji Karyawan Bandung Zoo yang Tertunda

Exit mobile version