Aktris Susan Sarandon telah mengungkapkan tantangan yang dihadapinya dalam industri film, terutama terkait dengan dukungannya terhadap Palestina. Dalam sebuah wawancara di Venice Film Festival, tempat ia mempromosikan film terbarunya, “The Echo Chamber”, Sarandon menyatakan bahwa sikap aktivismenya telah berakibat pada hilangnya banyak tawaran pekerjaan. Di tengah situasi yang sulit ini, ia tetap berkomitmen pada keyakinannya dan mengungkapkan bagaimana industri perfilman bereaksi terhadap pandangannya.
Kesulitan yang Dihadapi Susan Sarandon
Selama berbicara di festival film tersebut, Sarandon mengungkapkan bahwa dia masih sering kehilangan kesempatan kerja karena sikapnya yang vokal dalam mendukung Palestina. “Saya baru-baru ini kehilangan tawaran film karena ada agensi yang melarang orang-orang untuk mempekerjakan saya,” ujarnya, mengungkapkan bahwa ini adalah dampak dari pengaruh kekuasaan di industri film.
Meski mengalami penolakan dari beberapa pihak dalam industri, Sarandon merasa mendapat dukungan dari masyarakat luas, terutama di tingkat internasional. “Di tingkat masyarakat, terutama secara global, saya merasa sangat diterima,” tambahnya. Dia percaya bahwa ada banyak individu lain yang mengalami situasi serupa karena berani mengambil sikap dalam mendukung Palestina.
Sikap Industri Film Terhadap Aktivisme
Menurut Sarandon, reaksi negatif yang ia terima sangat tergantung pada apakah proyek tersebut berada di bawah naungan studio besar atau tidak. “Ini bukan hanya tentang saya; banyak orang juga diberitahu bahwa mereka tidak bisa terlibat dalam proyek tertentu,” ungkapnya. Dalam konteks ini, ia menghargai keberanian Andrea Pallaoro, sutradara “The Echo Chamber”, yang tetap mempekerjakan dirinya meskipun ada ancaman dari industri. “Saya sangat berterima kasih kepada Andrea karena dia tidak memperhatikan peringatan itu,” kata Sarandon.
Pergeseran Pemahaman Masyarakat
Sarandon juga mencatat peningkatan pemahaman masyarakat mengenai isu-isu yang berkaitan dengan Palestina. “Saya melihat ada perubahan dalam cara publik memahami situasi ini,” tuturnya. Namun, ia mencatat bahwa hal ini tidak berlaku untuk semua orang, terutama mereka yang memegang kekuasaan dalam industri film. “Meskipun ada perubahan di tingkat masyarakat, posisi-posisi berpengaruh di industri masih dipegang oleh kelompok-kelompok tertentu yang belum menunjukkan adanya kelunakan terhadap saya,” jelasnya.
Pengalaman Pribadi dan Profesional
Karier Susan Sarandon sebagai aktris sudah tidak diragukan lagi, di mana ia meraih Piala Oscar lewat film “Dead Man Walking” pada tahun 1996. Sejak saat itu, ia membintangi banyak film terkenal seperti “The Rocky Horror Picture Show” (1975), “Thelma & Louise” (1991), dan “Stepmom” (1998). Namun, perjalanan kariernya tidak selalu mulus. Pada tahun 2023, ia dipecat dari agensi bakat yang telah lama menampungnya, UTA, setelah ia berpartisipasi dalam demonstrasi pro-Palestina.
Dalam pernyataannya, Sarandon mencatat bahwa saat ini banyak orang yang merasa terancam untuk mengungkapkan identitas mereka sebagai Yahudi, dan ia membandingkan perasaan tersebut dengan pengalaman komunitas Muslim di negara tersebut. “Orang-orang mulai merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim di negara ini,” ungkapnya, menunjukkan bahwa pergeseran dalam pandangan publik juga menciptakan suasana yang lebih kompleks.
Film Terbaru dan Isu Sosial
Film terbaru Sarandon, “The Echo Chamber”, diadaptasi dari naskah terakhir mendiang sutradara Italia, Bernardo Bertolucci. Dalam film ini, ia berperan sebagai seorang penyanyi senior yang bekerja sama dengan seorang produser musik yang sedang berjuang untuk pulih dari kecanduan narkoba. Film ini menjadi salah satu dari 21 karya yang bersaing untuk meraih penghargaan Golden Lion di Venice Film Festival, yang pengumumannya dijadwalkan pada 12 September 2026.
Dengan keberanian untuk berbicara dan bertindak, Susan Sarandon menunjukkan bahwa menjadi seorang aktivis tidak selalu berarti mendapatkan dukungan dari semua kalangan. Di tengah tantangan yang dihadapinya, ia tetap berkomitmen untuk menyuarakan dukungannya terhadap Palestina, meskipun harus menghadapi konsekuensi serius dalam kariernya.
Peran Sutradara dan Dukungan Tim
Keberanian sutradara Andrea Pallaoro dalam memilih Sarandon untuk berperan dalam filmnya menunjukkan adanya ruang bagi suara-suara yang berani di industri perfilman. Pallaoro, yang berkomitmen untuk bekerja dengan Sarandon meskipun ada risiko yang dihadapinya, menciptakan kesempatan bagi aktris tersebut untuk terus berkarya dan menyampaikan pandangannya.
- Peningkatan dukungan masyarakat terhadap isu Palestina.
- Persepsi yang berbeda antara publik dan industri film.
- Risiko yang dihadapi oleh individu dalam menyuarakan pendapat.
- Pengaruh agensi terhadap karier para seniman.
- Pentingnya keberanian dalam industri perfilman.
Keberadaan Sarandon dalam proyek-proyek yang berani dan menantang seperti “The Echo Chamber” menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan besar, suara yang berani tetap bisa bertahan. Ini adalah bukti bahwa dalam dunia film, penting untuk tetap berpegang pada prinsip dan berjuang untuk apa yang diyakini, meskipun harus menghadapi konsekuensi yang tidak mudah.
➡️ Baca Juga: Presiden Korsel Menyatakan Penyesalan atas Penerbangan Drone ke Korut
➡️ Baca Juga: Cak Imin Tegaskan Kepala Daerah PKB Wajib Hindari Korupsi Pasca OTT Bupati Cilacap
