Umay Shahab Kembangkan Film Memburu Pemangsa Terinspirasi dari Kasus Epstein

Jakarta – Produser dan sutradara Umay Shahab kembali memberikan kontribusi yang signifikan dalam dunia perfilman Indonesia dengan karya terbarunya, film berjudul Memburu Pemangsa. Mengusung genre horor, crime, dan action, film ini tidak hanya menawarkan ketegangan, tetapi juga mengangkat isu serius terkait kekerasan terhadap anak. Dalam film ini, penonton akan menyaksikan perburuan terhadap predator anak yang digambarkan berkolusi dengan kekuatan gelap demi kepentingan pribadi. Bagi Umay, Memburu Pemangsa bukan sekadar film, melainkan sebuah sarana untuk menyuarakan kepedulian terhadap isu kekerasan anak, dengan pendekatan sinematik yang lebih megah dibandingkan karya-karya sebelumnya.
Melangkah Lebih Dekat dengan Isu Kekerasan Anak
Film ini dibintangi oleh deretan aktris berbakat, termasuk Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan Yasamin Jasem, yang masing-masing memerankan karakter utama dalam perjalanan menegangkan untuk mengejar para predator yang mengincar anak-anak. Selain mereka, film ini juga menampilkan aktor seperti Teuku Rifnu Wikana, Andri Mashadi, Septian Dwi Cahyo, Shareefa Daanish, dan Jordan Omar, yang memperkuat kualitas narasi dan kedalaman karakter.
Umay mengungkapkan bahwa kemarahan dan kepeduliannya terhadap kekerasan terhadap anak menjadi dorongan utama dalam pembuatan film ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa pemangsa anak itu lebih iblis dibandingkan iblis itu sendiri. Bahkan, iblis pun merasa minder jika dibandingkan dengan mereka. Ada kemarahan yang mendalam dalam diri saya yang ingin saya sampaikan melalui film Memburu Pemangsa,” ungkap Umay dengan tegas.
Data Mengejutkan tentang Kekerasan Anak
Data menunjukkan bahwa angka kekerasan terhadap anak di Indonesia masih sangat mengkhawatirkan. “Pada tahun 2025, tercatat 21.000 kasus kekerasan terhadap anak, termasuk 12.000 kasus kekerasan seksual. Angka ini terus meningkat setiap tahun,” jelas Umay. Fakta-fakta ini memberikan alasan yang kuat bagi Umay untuk mengangkat tema tersebut ke dalam film, menjadikannya relevan dan mendesak untuk dibicarakan.
- 21.000 kasus kekerasan terhadap anak di tahun 2025.
- 12.000 kasus kekerasan seksual terhadap anak di tahun yang sama.
- Angka terus meningkat setiap tahun.
- Film ini menjadi medium untuk membangkitkan kesadaran.
- Pesan moral yang terkandung dalam film harus disebarluaskan.
Pengalaman Pribadi yang Menginspirasi
Umay mengakui bahwa pengalamannya sebagai mantan artis cilik membentuk pandangannya terhadap isu ini. Ia menyadari bahwa anak-anak yang berada di lingkungan orang dewasa sering kali menghadapi situasi yang tidak nyaman. “Sebagai mantan artis cilik, saya dan beberapa pemeran lainnya pernah mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, yang membuat kami merasa harus menyesuaikan diri dengan situasi di sekitar kami,” jelasnya.
Pengalaman pribadi tersebut menjadi salah satu alasan kuat bagi Umay untuk membawa isu ini ke layar lebar. Ia merasa perlu mengekspresikan kemarahannya terhadap para pelaku kekerasan anak melalui medium film. “Ada momen dalam hidup saya yang memicu kemarahan yang mendalam terhadap pemangsa anak, dan saya rasa penting untuk menyampaikannya lewat film,” ujarnya.
Inspirasi dari Kasus Publik yang Menonjol
Selain pengalaman pribadi, Umay juga terinspirasi oleh sejumlah kasus kekerasan terhadap anak yang belakangan menjadi perhatian publik. Salah satu contohnya adalah kemunculan grup di media sosial yang diduga menyebarkan konten yang tidak pantas, termasuk hubungan incest antara orang tua dan anak. “Kami sebagai generasi muda merasa penting untuk mengangkat isu ini. Ingatkah Anda tentang grup di media sosial yang berisi konten incest antara orang tua dan anak? Mereka mengunggah foto-foto dan video yang tidak seharusnya,” ungkap Umay.
Kasus ini mencuat saat proses penulisan Memburu Pemangsa berlangsung. Selain itu, berita mengenai dokumen kasus Jeffrey Epstein juga menjadi sorotan yang turut mempengaruhi pengembangan cerita film. “Saat itu, kami sedang dalam proses penulisan, dan semua data mengenai Epstein tiba-tiba muncul di akhir tahun lalu,” tambah Umay.
Isu Global dan Keresahan Bersama
Kondisi ini membuat Umay merasa bahwa isu yang diangkat dalam Memburu Pemangsa bukan hanya relevan di Indonesia, tetapi juga mencerminkan keresahan yang dirasakan masyarakat di berbagai belahan dunia. “Kami menyadari bahwa saat ini, seluruh dunia merasakan kegelisahan dan keresahan yang sama. Film ini berdurasi 115 menit, dan kami berharap dapat menggugah kesadaran tentang predator anak,” ujarnya.
Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Aman
Melalui film ini, Umay berharap agar Memburu Pemangsa tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga memicu diskusi tentang pentingnya perlindungan terhadap anak. “Saya ingin pesan tentang perlindungan anak dapat terus dibahas dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kekerasan seksual terhadap anak,” ujarnya penuh harapan.
Umay menekankan pentingnya mengedukasi masyarakat mengenai isu ini. “Alhamdulillah, film ini sudah selesai dan siap ditonton. Semoga apapun yang terjadi, yang paling penting adalah isu tentang kekerasan seksual terhadap anak ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat. Tagar kami dalam film ini adalah #JagaAnakAnak, yang diharapkan dapat menjadi sesuatu yang digaungkan secara luas,” tutup Umay Shahab.
Dengan Memburu Pemangsa, Umay Shahab tidak hanya merilis sebuah film, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang perlunya perlindungan anak di tengah maraknya kekerasan yang terjadi. Karya ini, diharapkan, dapat menggugah hati masyarakat untuk lebih peduli dan beraksi demi masa depan anak-anak yang lebih aman.
➡️ Baca Juga: Sinergi Kuat, BPJS Ketenagakerjaan Bandung Suci Jalin Hubungan dengan Perusahaan Jaminan Sosial
➡️ Baca Juga: Australia Menjalin Kerja Sama Impor Pupuk dengan Indonesia Bersama Wamentan




