Wagub Rano Dukung Pelestarian Budaya Jakarta Melalui Buku Filosofi Orang Kampung

Jakarta – Di tengah dinamika perkembangan yang pesat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkomitmen untuk memperkuat identitas budaya dan ruang kebudayaan masyarakat. Dalam era modernisasi ini, pelestarian budaya Jakarta menjadi krusial, terutama melalui dukungan terhadap kegiatan literasi dan seni yang merekam kehidupan masyarakat Jakarta yang kian beragam.
Peluncuran Buku Filosofi Orang Kampung
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, saat menghadiri acara peluncuran buku berjudul “Filosofi Orang Kampung” karya penulis dan sastrawan Harry Tjahjono. Acara ini dilaksanakan di Balai Sastra H.B. Jassin, Perpustakaan Jakarta yang berlokasi di Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat, 11 September.
Makna Penting Buku bagi Budaya Jakarta
Rano Karno menggarisbawahi pentingnya buku ini karena mengangkat kembali sejarah awal karakter Si Doel, yang merupakan simbol dari budaya populer Jakarta. Karya Harry Tjahjono tidak hanya memperkaya narasi, tetapi juga memperkenalkan sejumlah karakter yang menjadi ikonik di kalangan masyarakat.
“Kehadiran buku ini sangat berarti karena mengingatkan kita pada gagasan awal cerita Si Doel yang diinisiasi oleh almarhumah Ibu Ida Farida. Ini juga menjadi kesempatan untuk menghargai sejarah karya sastrawan besar, Aman Datuk Madjoindo. Harry Tjahjono berhasil memperluas ekosistem cerita dengan menghadirkan karakter-karakter seperti Mandra, Atun, Karyo, dan Pak Bendot, sehingga suasana perkampungan terasa hidup,” jelas Rano.
Si Doel dan Kenangan Masyarakat Jakarta
Menurut Rano, cerita Si Doel memiliki tempat yang tak tergantikan dalam sejarah perfilman dan sinetron Indonesia. Karya tersebut mencerminkan kehidupan masyarakat serta suasana perkampungan Jakarta pada masa tertentu, yang masih terpatri dalam ingatan kolektif masyarakat.
“Dialog dan karakter dalam cerita Si Doel menjadi bagian dari memori masyarakat Jakarta. Saya sendiri merasa terhubung dengan perjalanan karakter tersebut, yang mirip dengan perjalanan hidup saya yang kini mengemban amanah di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tandasnya.
Sejarah yang Terus Berlanjut
Rano menceritakan bahwa ucapan mendiang Benyamin Sueb yang menyebut Si Doel layak menjadi gubernur sudah ada sejak film “Si Rano” yang ditulis oleh Motinggo Busye pada tahun 1973. Ucapan tersebut akhirnya mengalir ke dalam sinetron tanpa naskah resmi. Takdir tersebut seolah terwujud dalam kariernya di birokrasi, yang kini membawanya memimpin di Balai Kota DKI Jakarta.
Dokumentasi Budaya untuk Generasi Muda
Wakil Gubernur Rano menekankan bahwa “Filosofi Orang Kampung” juga berfungsi sebagai dokumentasi yang berharga mengenai nilai-nilai kehidupan masyarakat yang semakin sulit ditemukan akibat perkembangan Jakarta yang pesat. Hubungan antarwarga, kondisi lingkungan, penggunaan dialek lokal, dan kebiasaan sehari-hari merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dikenalkan kepada generasi mendatang.
- Hubungan antarwarga yang erat
- Kondisi lingkungan yang asri
- Penggunaan dialek lokal yang khas
- Kebiasaan sehari-hari yang unik
- Nilai-nilai luhur yang harus dilestarikan
“Saat ini, tontonan di layar kaca seringkali kehilangan esensi nuansa kampung. Banyak adegan yang memperlihatkan keseharian yang janggal dan terasing dari realitas masyarakat kita yang sederhana. Oleh karena itu, kami mendorong Harry untuk terus berkarya, menyusun ensiklopedia dan seri lanjutan, agar nilai-nilai luhur perkampungan tetap terjaga untuk generasi penerus,” imbuh Rano.
Dukungan Pemerintah terhadap Pelestarian Budaya
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menegaskan dukungan terhadap berbagai kegiatan literasi dan upaya pelestarian budaya yang melibatkan para pelaku seni serta masyarakat. Dokumentasi sejarah dan kehidupan kampung diyakini dapat membantu masyarakat memahami perjalanan budaya Jakarta sekaligus mempertahankan identitas kota ini di tengah transformasi menjadi kota global.
“Kami berharap forum ini dapat memberikan manfaat nyata. Mari bersama-sama kita hidupkan kembali kearifan kampung melalui perspektif yang lebih maju,” tutup Rano.
Karya Harry Tjahjono dan Perjuangan Budaya Betawi
Sementara itu, Harry Tjahjono mengungkapkan bahwa buku “Filosofi Orang Kampung” lahir dari keprihatinan terhadap keberadaan masyarakat Betawi di tengah perubahan Jakarta. Perubahan ini mendorongnya untuk tetap berkarya meskipun ia harus berjuang melawan keterbatasan fisik setelah mengalami serangan stroke.
Produktivitas di Tengah Tantangan
Harry menegaskan bahwa ia tetap produktif dalam berkarya dengan menyelesaikan dua buku baru dan mempersiapkan pembaruan aransemen terhadap 30 karya musik tempo dulu. Rencana ini merupakan bagian dari upayanya untuk memastikan bahwa karya dan nilai budaya Betawi tetap terjaga dan dikenal oleh masyarakat.
“Karya ini lahir dari kekhawatiran budaya yang sudah ada sejak puluhan tahun silam, agar masyarakat Betawi tidak terasing di tanah kelahirannya sendiri. Meskipun kondisi kesehatan saya menantang, hal ini justru semakin memotivasi saya untuk menghasilkan berbagai novel, puisi, novelet, dan puluhan lagu bertema Betawi. Lagu-lagu tersebut direncanakan akan diproduksi ulang pada bulan Januari mendatang,” jelasnya.
Menyongsong Masa Depan Budaya Jakarta
Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat, pelestarian budaya Jakarta dapat terwujud secara berkelanjutan. Buku “Filosofi Orang Kampung” adalah salah satu langkah penting untuk memperkenalkan dan mendokumentasikan kekayaan budaya Jakarta, yang merupakan warisan berharga bagi generasi mendatang.
Selain itu, karya-karya sastra dan seni lainnya juga dapat menjadi jembatan antara generasi lama dan baru, memperkuat rasa identitas dan kebanggaan terhadap budaya lokal. Dengan cara ini, pelestarian budaya Jakarta tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Ke depannya, diharapkan akan banyak lagi karya-karya yang lahir dari semangat pelestarian budaya, yang tidak hanya dapat dinikmati tetapi juga dihayati oleh masyarakat Jakarta dan seluruh Indonesia. Dengan semangat kolaborasi dan partisipasi aktif, kita dapat bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya yang kaya ini untuk generasi-generasi yang akan datang.
➡️ Baca Juga: SIM Keliling Jakarta: 5 Lokasi Tersedia untuk Layanan Lengkap di Hari Sabtu
➡️ Baca Juga: Warga Lebanon Rayakan Lebaran di Tengah Tantangan Perang yang Menghimpit



